Rabu, 30 November 2011

Saba Budaya Baduy 2011 Bagian 1

Perjalanan ke Desa Kanekes ini sepertinya adalah perjalanan yang paling berkesan tahun ini. Setelah berkali-kali berencana, baru akhirnya terwujud pada pertengahan november kemarin. Berbekal informasi dari www.wiserearth.org saya dan teman-teman ikut serta dalam acara Saba Budaya Baduy yang diselenggarakan oleh Sahabat Baduy. Sebenarnya sedikit salah paham, saya kira ini acara seba (silaturahmi Baduy menemui pemimpin pemerintahan)

Kumpul di St. Tanah Abang menunggu kereta jurusan Rangkasbitung yang berangkat jam 8 pagi. Bertemu teman seperjalanan ke Tidung. Menurut panitia ada beberapa orang lagi yang akan menyusul nantinya. Berhubung kereta sudah hendak berangkat, maka kami berangkat lebih dulu. Sampai di Rangkas sekitar jam setengah sebelas siang. Begitu keluar stasiun langsung diserbu orang-orang yang menawarkan Aweh ataupun Mandala (kalo ga salah inget). Setelah bertanya barulah diketahui kalo yang ditawarkan itu adalah nama-nama terminal di Rangkasbitung. Untuk ke Kanekes rombongan mengambil rute lewat Aweh dilanjut ke Ciboleger, karena kita akan masuk via Kampung Kaduketug.

Sebelum ke Ciboleger sempet mampir di Barata buat beli perbekalan. Barata ini adalah pusat perbelanjaan terbesar di Rangkas (lagi-lagi kalo ga salah denger). Berhubung kita udah ga sabar, maka kami empat sekawan memutuskan untuk langsung menuju ke terminal Aweh. Di sana masih harus menunggu minibus (ga tau harus nyebut apa itu angkutan umum) mencari penumpang lain. Ngetem lagi di Leuwidamar, padahal tuh minibus dah sesak. Gila bener dah tuh sopirnya. Bareng naik mobil sama beberapa orang Baduy luar.

Akhirnya sampai di Ciboleger sekitar jam duaan. Langsung menuju ke rumah Kang Salman, yang menyediakan tempat buat kita menginap di hari terakhir nanti, sementara panitia mendaftarkan nama-nama peserta di buku tamu yang wajib diisi. Rumah Kang Salman ini cuma seling satu rumah dari rumah Jaro Dainah, Kepala Kampung Kaduketug.

Ishoma dan icip-icip duren jualannya Kang Salman trus poto-poto bentar di sekitar rumah. sebelum mulai  perjalanan ke Cibeo, salah satu kampung di Baduy Dalam. Orang Baduy dalam yang pertama kita temui itu pulung dan bapaknya, Pak Idong (namanya baru kita ketahui dalam perjalanan pulang, kebangetan ya?) . Ternyata kita akan menginap di rumah mereka nanti di Cibeo. Menjelang ashar rombongan kedua menyusul. total peserta ditambah panitia dua belas orang. Pas mau berangkat mendadak hujan turun, terpaksa ditunda sebentar sampai hujan tinggal gerimis.


Sekitar setengah jam pertama setelah mendaki,tiba di pemberhentian pertama, yaitu Danau Dang-Dang Ageung. Danaunya lumayan indah, tapi ga sempet lama-lama karena ngejar biar ga kemaleman ke Cibeo.


Setelah danau, kami melewati kampung pertama, cuma saya lupa nama kampungnya. Napas sudah putus-putus sama dengan sinyal si merah. 


Setelah satu jam pertama pendakian, mulai bertanya: ini turunannya mana sih? Masih jauh, ya? Kapan sampainya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus bergulir hingga waktu maghrib saat kembali beristirahat di sebuah huma yang ternyata sudah berada di wilayah Baduy dalam. Mulai dari sini kami diminta untuk tidak mengambil foto, menyalakan alat perekam dan sebangsanya. Hari pun merambat malam, namun perjalanan masih panjang. Setelah beberapa insiden beberapa kawan yang jatuh bangun, saya pun tak kuasa lagi membawa beban tas di punggung dan meminta bantuan pada Safri, salah seorang pemuda (katanya sih baru lima belas tahun)  untuk membawakan tas. 

Baru pada pukul setengah sepuluh kami akhirnya tiba di Cibeo. Kesan pertama saya: sunyi dan damai. Dan untuk pertama kalinya sejak sekian lama, saya bisa melihat bintang di langit. Subhanallah. Indahnya. Kejadian berkesan berikutnya adalah saat terpaksa mandi malam-malam di kali, ga tahan sama keringat yang membasahi tubuh. Dinginnya, ga tahan!!! Cuma cebar-cebur, karena ga boleh sabunan pula. yang penting keringat lenyap. Abis mandi, sholat trus makan deh. Satu keunikan orang Baduy dalam, mereka menanam padi sendiri (sistem padi ladang) yang tahan disimpan di leuwit selama puluhan tahun dan mereka tidak akan menjual padi mereka. Tapi kita boleh makan sepuasnya. Kami makan nasi berlauk sambal goreng cabe hijau dan ikan saja. Dan saya seketika jatuh cinta dengan sambal mereka. Nikmat tiada tara. Bukan hanya karena energi yang terkuras habis bikin apa pun terasa nikmat. Salah satu dugaan saya yang meleset adalah waktu saya pikir mereka makan lalap-lalapan seperti halnya orang sunda, ternyata tidak. Bersyukurlah saya yang setiap hari masih bisa menjumpai sayuran, entah itu cuma tumis kangkung, sayur katuk, bayam, atau sayur asem. Kinda miss my home...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

share it