Kamis, 10 Februari 2011

Imlek 2562

Di tengah kesibukan dan berbagai keterbatasan, akhirnya bisa juga menyempatkan diri menyaksikan malam imlek yang dikoordinasikan oleh Komunitas Jelajah Budaya (KJB). Karena salah prediksi, menjadi peserta paling buncit, dan ketinggalan rombongan. Nyasar dulu di halte transjakarta dukuh atas. Untungnya ada teman yang menjadi panitia, jadi kami ditemani hingga menyusul rombongan terakhir. Rutenya hampir sama dengan acara cap gomeh setahun yang lalu, meskipun sedikit berbeda karena suasana malam. Note to self: buy a tripod, coz can't afford to buy a new lenses. Biar bisa explore suasana malam. kayaknya emang kudu memperbanyak keluar nih...













Senin, 24 Januari 2011

A Piece of Memory

ga sempet ke mana-mana sebulanan ini, kejar tayang melulu. cuman pengen posting beberapa foto event Indonesian Readers Festival 2010 yang udah lewat kemaren

happy faces

artist at work

Gandalf & Frodo - Eorlingas

Enjoy reading

 Toko kelontong sihir

Selasa, 19 Oktober 2010

Roman oh Roman...


Judul        :   Manhattan Merger
Tebal       :   232 hlm
Penerbit   :   GPU 
Terbit      :   Maret, 2008


Pertama kali saya membaca buku HQ ini waktu di SMA. Buku terjemahannya tentu saja. Menemukannya di antara buku-buku praktik di perpustakaan. (baru sadar sekarang kok di perpustakaan ada buku aneh-aneh begitu). Saat itu saya memutuskan untuk tidak akan pernah membaca buku semacam itu lagi. Kenapa? Karena saya menganggap buku seperti itu tidak ada gunanya dan banyak mempertontonkan adegan vulgar.

Sampai beberapa bulan yang lalu saya masih memegang teguh kepercayaan saya untuk tidak menyentuh buku semacam itu. Namun, karena tuntutan pekerjaan (memang suka menyalahkan kondisi saat tidak ada orang yang bisa disalahkan), saya terpaksa membaca buku semacam ini. Saya tidak habis pikir mengapa buku-buku seperti ini laku di pasaran. Timbul pertanyaan menarik yang menggelitik rasa ingin tahu saya. Mengapa kaum hawa banyak yang menyukai buku dengan genre tersebut?

Buku Manhattan Merger ini menurut saya cukup menarik, terutama pada bab 2 dan bab 3. Saya sampai penasaran ingin tahu bagaimana selera pasar menentukan sebuah bisnis penerbitan. Karena buku ini saya jadi ingin tahu seberapa besar sih penerbit Harlequin yang mengkhususkan diri untuk menerbitkan genre roman ini?

Setelah membaca buku ini, saya jadi tergugah untuk mencari lebih banyak. Dan saya baru tahu kalau Harlequin Enterprises Limited sudah berdiri sejak tahun 1949 nun jauh di Winnipeg, Kanada, sana.

Sejarah singkat HQ

Buku yang pertama kali diterbitkan adalah buku karya Nancy Bruff (orang US), The Manatee, yang dijual dengan harga 50 sen. Pada awalnya HQ mengakuisisi naskah dari penerbit lain. Editor pertama HQ adalah Mary, istri Richard Bonnycastle, salah satu pemegang saham utama. Baru pada tahun 1964, HQ mendedikasikan dirinya secara eksklusif untuk menerbitkan serial roman. Saat Lawrence Heisey menjadi presiden perusahaan, novel-novel HQ mengalami standarisasi, cetakannya dibatasi hanya 192 halaman untuk mereduksi kertas cetakan dan mulai di-branded seperti komoditas lainnya.

Persaingan lahan roman ini meningkat pada tahun 1975. Karena meskipun berasal dari Kanada, HQ hampir menguasai seluruh wilayah pemasaran di Amerika. Sampai Simon & Schuster mendirikan imprint Silhoutte sebagai saingan, yang mengeksplor isu-isu kontemporer. Namun, penerbit ini pun akhirnya berhasil diakuisisi HA pada 1984, meskipun berhasil mempertahankan kendali dalam pemilihan naskah dan proses editing.

HQ saat ini dikuasai oleh Torstar Corporation, perusahaan surat kabar terbesar di Negeri Daun Mapel tersebut. Pada 2002, HQ menerbitkan lebih dari 1000 judul novel, yang sebagian besar terjual di Amerika Utara. Penerbit roman lain yang cukup produktif adalah Kensington Books yang hanya mampu memproduksi 219 judul. Sampai tahun 2006, HQ telah menerbitkan buku dalam 26 bahasa di 109 negara

***

Pro – Kontra
Dalam buku ini, saya juga menemukan beberapa pro dan kontra mengapa buku roman yang diterbitkan HQ ini sering dianggap karya picisan yang tak layak disandingkan dengan karya sastra lainnya. Seperti halnya tokoh Diane, saya dan mungkin banyak orang lain, menganggap bahwa buku roman adalah sebuah pembodohan. Cerita roman hanya memperlihatkan bagian-bagian yang menyenangkan dari sebuah hubungan asmara, dan tidak pernah bercerita tentang hubungan jangka panjang (p.183). Dan banyak pula cerita roman yang laris manis jika sang tokoh adalah orang biasa dengan tampang pas-pasan tapi memiliki kelakuan atau sikap yang menarik. Menurut chief ed saya, itu karena banyak wanita yang merasa dirinya tidak cantik, tapi ingin dianggap menarik. Jadi mereka merasa senasib dengan para tokoh yang biasanya tertindas macam di sinetron.

Pendapat pro dikemukakan oleh Rainey, tokoh utamanya, Catherine, dan Linda. Linda, misalnya, mengatakan bahwa menyenangkan membaca bagaimana dua orang yang berbeda akhirnya bersatu (p.182). Meskipun banyak konflik dan rintangan, tapi pada akhirnya tokohnya menikah dan hidup bahagia. Happily ever after.

Mau ikut yang pro, mau kontra, terserah. Toh, mau bagaimanapun tetap pasar yang menentukan. Percaya atau tidak, saat ini penjualan buku roman di tempat saya bekerja meningkat dua kali lipat. Jika untuk novel lainnya hanya dicetak maksimal 5000 eksemplar, maka jangan heran kalau novel-novel roman tetap laris saat dicetak dua kali lipatnya. Ini opini murni pendapat saya. Entah orang lain.

Btw, ini gambar Nantucket Lighthouse, lukisan karya Thomas Mcknight yang disebut-sebut dalam novel ini.

Kalau saja saya punya uang untuk membeli sebuah mercusuar dan tinggal di dalamnya....

sumber tentang HQ:
www.eharlequin.com

Selasa, 12 Oktober 2010

Oktober Datang Juga

Wah, ternyata udah dua bulan gak posting sama sekali. Bukannya males tapi emang lagi banyak kerjaan alias ngejar setoran. Abis waktunya kerja malah baca manga :p *jangan ditiru yak*

sebenarnya banyak kejadian yg pengen diceritain tapi gak sempet mlulu. Trus daripada bulan ini berlalu tanpa postingan, mending repost poto aja ah. ini poto-poto yang diambil di sekitar bunderan senayan, pulang nobar Legend of the Guardian dari Penerbit Kubika. btw itu pelem keren deh.



 Dian yang tak kunjung padam.

Wings (ceritanya mo ngikutin iklan BNI).

Buckbeak (imajinasi).

in between.

Kamis, 29 Juli 2010

Pada Hari Minggu

night's left-over
Niat bangun pagi di hari minggu mau berburu matahari terbit. Alasannya sederhana: mau pamer. Pertama, pamer bisa juga bangun pagi di hari minggu, karena akhir-akhir ini jadi males bangun pagi. Kedua, pamer bisa juga ngejepret sunrise. Abis liat foto-foto temen yang keren-keren jadi sirik sendiri. Maka diniatkanlah setelah shalat subuh, mengambil sweter, pake sepatu dan nangkring di jalan layang Pasar Rebo. Pilih jalan layang karena itu tempat paling tinggi yang bisa dicapai. Udah kebayang sunrise yang bakal dijepret. 

Sempet jempret pas suasana masih agak gelap, tapi karena gak punya tripod jadi ngeblur semua. So, masukin tripod jadi wishlist taon depan, ya, menyugesti diri sendiri. Setelah menunggu, ternyata sunrise tak kunjung tiba. Cuma ada awan yang semburat kemerahan ini. 
Trus ditambah cuaca yang mendung tak ada sunrise yang spektakuler yang ada di benak sedari malam. Gw memutuskan untuk berjalan ke arah Jalan Baru. Berhenti sebentar di jembatan penyeberangan. Jepret sedikit sinar matahari yang nongol di belakang RS. Bina Waluyo.
another left-over

Melanjutkan perjalanan sampai ke jembatan penyeberangan Terminal Kp. Rambutan. Sebenarnya agak waswas, mengingat ketinggian jembatan. Sendirian pula. Tapi dengan segenap keberanian dan diliatin orang-orang yang nunggu bus, asik jeprat-jepret sendiri akhirnya.

In Between
Just The Two of Us
Breakthrough

Mengakhiri perjalanan minggu pagi dengan memotret grafiti di dinding terowongan jalan tol Cikunir di depan Pintu II TMII. sempat kepikiran pengen masuk, tapi gak jadi. Perut dah keroncongan minta diisi. Jadi, sampai di sini kisah minggu kali ini.
Patronus
scalawags look-a-like

Rabu, 28 Juli 2010

Terbang Bebas Mengangkasa

Dapat melayang seperti burung adalah kenikmatan tiada duanya di dunia. Pengalaman tersebut bisa dirasakan Erwin saat mencoba olahraga paralayang di Bukit Gantole, Bogor. Bersama keempat orang teman sekantornya, ia mencoba olahraga yang memacu adrenalin tersebut. 

Paralayang adalah salah satu cabang olahraga terbang bebas yang baru diresmikan sekitar awal tahun 1990-an di Indonesia. Berbeda dengan gantole yang menggunakan perangkat terbang berbentuk segitiga, paralayang menggunakan parasut. Paralayang biasanya menggunakan bukit atau gunung sebagai landasan pacu. 

Erwin dan kawan-kawannya berangkat Minggu pagi pukul delapan dari Jakarta, namun karena kawasan puncak termasuk daerah rawan macet di akhir pekan, mereka baru tiba di tempat tujuan sekitar pukul sebelas siang. Waktu yang tepat sebenarnya, karena pada saat itulah biasanya angin bertiup cukup kencang. 

Banyak lokasi yang menyediakan tempat untuk mencoba olahraga ini di sekitar daerah Jawa Barat. Erwin dan kawan-kawannya memilih Bukit Gantole dengan alasan lokasinya yang dekat dan mudah dicapai. Bukit Gantole, yang nama sebenarnya adalah Bukit Paralayang, tidak begitu sulit untuk dicapai. Letaknya sekitar 100 meter dari Masjid Raya At-Taawun, Puncak Bogor. Bagi yang ingin mendapatkan sedikit informasi tentang olahraga paralayang ini, bisa mampir dulu di sekretariat Persatuan Olahraga Dirgantara Layang Gantung Indonesia (PLGI) yang bernaung di bawah Federasi Aero Sport Indonesia (FASI). 

Dari sekretariat tinggal berjalan sejauh 20 meter lagi menuju tempat lepas landas. Suasana di landasan hari itu cukup ramai. Beberapa orang sedang menunggu angin untuk membawa mereka terbang. Dibutuhkan banyak kesabaran menunggu sampai waktunya tiba untuk lepas landas, karena olahraga ini hanya mengandalkan angin untuk membawa penerbang terbang tinggi dan mencapai jarak yang jauh. 

Olahraga ini bisa diikuti oleh siapa pun yang berusia minimal 14 tahun dan maksimal 60 tahun. Untuk peminat yang berumur kurang dari 18 tahun harus mendapat izin dari orangtuanya sebelum bisa terbang. Terbang tandem bisa mengangkut penumpang dengan beban mulai dari 25-95 kg. Setelah mendaftar mereka akan diminta untuk menandatangani waiver, semacam formulir yang menyatakan kalau mereka siap menerima segala konsekuensi sebagai penumpang tandem. 

Sebelum terbang, para penerbang harus mengenakan perangkat paralayang berupa parasut, helm, dan flight suit (baju terbang). Flight suit ini berfungsi sebagai tempat duduk saat melayang di udara, sehingga penerbang bisa bebas memotret pemandangan dari atas. 

Bagi yang baru pertama kali terbang akan menjadi penumpang tandem. Maklum, olahraga ini termasuk berbahaya apabila tidak didampingi oleh orang yang berpengalaman. Penerbang didampingi seorang pilot, sebutan untuk tandem master yang bertugas sebagai instruktur. Pilot akan memandu mulai dari tinggal landas, selama penerbangan, sampai pendaratan. Kebetulan pilot yang membawa Erwin adalah Opa David, yang merupakan salah satu pelopor olahraga ‘terjun gunung’ yang kemudian dikenal sebagai paralayang ini di Indonesia. Opa David yang sudah berumur 53 tahun sudah mengantungi sertifikasi tandem master level 7, level tertinggi dalam cabang olahraga paralayang. Bersama rekan-rekan PLGI, Opa David sedang sibuk mempersiapkan fasilitas di Bukit  Gantole untuk dipergunakan dalam SEA GAMES XXVI 2011. 

Saat cuaca dan angin dirasa sudah mencukupi, aba-aba diberikan kepada penerbang. Namun sebelum itu, penerbang harus berlari ke ramp yang berbatasan dengan perkebunan teh. Dan wuush... parasut pun terbentang membawa sang penerbang. 

Untuk sesaat rasanya seperti menjadi bukan manusia, ungkap Erwin. Paralayang jauh lebih menyenangkan jika dibandingkan dengan parasailing yang juga pernah dicobanya. Paralayang membawanya terbang bebas mengangkasa laksana burung. Langit biru, hamparan petak-petak rumah, pucuk-pucuk cemara, dan hijaunya barisan pegunungan adalah kenikmatan lain yang bisa didapat saat terbang. 

Tak terasa 10-15 menit telah berlalu, akhirnya terlihat landing area di sebuah lapangan bola di Lereng Gunung Mas. Pilot memberi aba-aba untuk mendarat. Dibantu oleh ground crew, yang terdiri dari anak-anak usia sekolah SD dan SMP, Erwin dan pilotnya membereskan perlengkapan terbang mereka. Dari sana, mereka kembali ke bukit paralayang dengan menggunakan angkot yang sudah disewa oleh asosiasi. Sampai di Bukit Gantole, sang pilot pun segera bersiap-siap kembali terbang tandem dengan teman-teman Erwin yang lain. 

Demi menikmati olahraga paralayang ini, Erwin tidak segan-segan merogoh koceknya dan mengeluarkan uang sebesar tiga ratus ribu rupiah untuk sekali terbang. Memang relatif mahal, tapi sebanding dengan faktor keamanan dan ongkos sewa peralatan serta pengalaman seorang tandem master. 

“Pengalamannya tidak ada duanya,” ujar Erwin, lelaki penyuka extreme sport yang bekerja sebagai humas sebuah perusahaan pertambangan ini. Ia bahkan mempertimbangkan untuk mengikuti kursus penerbangan paralayang. 

PS. Dibuat untuk tugas pelatihan menulis.

Selasa, 29 Juni 2010

Jalan Layang Penuh Rezeki

Ada gula ada semut, barangkali adalah pepatah yang tepat untuk menggambarkan para pedagang yang mangkal di flyover di atas Jalan Raya Bogor, Jakarta Timur. “Habis banyak orang yang berhenti di pinggir pagar,” ungkap Bang Jalu, seorang pedagang batagor, yang turut berjualan di jalan layang di atas lampu merah Pasar Rebo itu.

Awalnya dulu Bang Jalu berdagang keliling kampung di sekitar daerah Gudang Air, Pasar Rebo. Hingga pada suatu sore sepulangnya berdagang, ia melintasi perempatan tersebut dan dari bawah melihat ramainya orang berhenti di pinggir dekat pagar pembatas jalan layang. Saat itu sudah ada beberapa pedagang minuman dan buah-buahan yang berjualan, kenangnya. Ia kemudian mencoba peruntungannya di tempat itu sejak tahun 2007.

Tiga tahun berlalu, sekarang ia sudah punya beberapa kenalan yang kini jadi pelanggan tetapnya. Pelanggannya adalah para komuter pengendara motor yang baru pulang kantor. Mereka terkadang berhenti sejenak untuk melepaskan lelah atau sekadar menunggu berkurangnya kemacetan lalu lintas yang menjadi pemandangan sehari-hari terutama di jam-jam pulang kerja. Ada pula para remaja yang menikmati indahnya pemandangan kala senja dari atas jalan layang. Kadang ada juga keluarga yang bersantai di sepanjang jalan layang pada minggu sore.

Bang Jalu dan para pedagang lainnya, biasanya baru mulai berdagang pada pukul setengah lima sore. Karena saat itu matahari sudah tidak terlalu terik, dan waktunya bertepatan dengan jam pulang kantor. Sepanjang pagi, Bang Jalu pergi berbelanja bahan-bahan kebutuhan untuk membuat batagor. Tugas membuat bumbu dan batagor itu sendiri diserahkan kepada dua orang saudara yang ikut tinggal bersamanya di rumah kontrakan yang terletak di Gang Makmur, tak jauh dari jalan layang. Sementara itu, ia sendiri bertugas memasak makanan dan lauk-pauk sehari-hari, untuk menghemat pengeluaran, katanya.

Menjelang siang, kedua saudaranya berdagang keliling menggantikan dirinya yang kini tak lagi berkeliling. Bang Jalu sendiri bersiap-siap berangkat ke jalan layang. Menurutnya, berdagang di tempat itu, lumayan menguntungkan dibanding berkeliling, meskipun ia berpendapat rezeki sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.

Pria kelahiran Sumedang ini sudah merantau ke Jakarta sejak lulus SMP. Ia ikut menumpang di rumah pamannya kala itu. Ia sempat berputus asa karena tidak kunjung mendapat pekerjaan. Pernah ia menangis menghadapi kenyataan bahwa kehidupan di ibukota tak seindah bayangannya. Pada tahun 1996, ia ditawari untuk bekerja di sebuah tailor. Dengan pendapatan yang lumayan, ia bahkan bisa memacari seorang gadis di sekitar tempat tinggalnya. Namun apa daya, krisis moneter menyebabkan usaha tailor majikannya bangkrut. Pekerjaan hilang, pacar pun pergi, kenangnya sambil tertawa pahit. Dengan modal yang tersisa, Bang Jalu mulai merintis usaha berdagang batagor keliling.

Dari keuntungannya berdagang di jalan layang, ia berhasil mempersunting seorang gadis di kampung halamannya. Kini, bapak satu anak itu, semakin giat bekerja demi anak dan istri. Ia pun tak malu mengakui apa pekerjaannya di Jakarta. Sejak kecil ia diajarkan untuk selalu menghargai kejujuran di atas segalanya.

Di tengah persaingan antarpedagang di jalan layang, Bang Jalu masih bisa menyisihkan sepuluh ribu hingga lima belas ribu rupiah per hari untuk dikirimkan kepada istrinya di kampung. Biasanya sepuluh hari sekali, ia menitipkan uang tersebut kepada teman-temannya yang pulang kampung. Ia sendiri memilih untuk pulang kampung sebulan sekali.

Namun, sejak dimulainya perhelatan piala dunia, diakuinya kalau pendapatannya agak menurun. Banyak pelanggannya memilih pulang lebih cepat agar bisa menonton pertandingan di televisi yang disiarkan secara langsung. Pendapatannya juga agak berkurang pada hari minggu dan hari libur lainnya. Kalau sudah begitu, biasanya Bang Jalu hanya bisa pasrah, toh rezeki takkan lari ke mana. Seperti halnya jodoh, selorohnya. Tiba-tiba Bang Jalu teringat sebuah kejadian lucu. Katanya suatu hari pernah ada dua pasangan hendak mudik ke Cianjur naik motor. Mereka beristirahat sejenak di jalan layang kemudian memesan dua porsi batagor. Setelah selesai, mereka berencana melanjutkan perjalanan kembali. Sang pria menstarter motor dan kemudian melajukan motornya. Entah karena sedang banyak pikiran atau apa, si pria ini tidak menyadari kalau pasangannya belum membonceng di belakangnya. Kontan si perempuan berteriak-teriak dibantu Bang Jalu dan orang-orang yang sedang bersantai. Tapi si pria rupanya tak mendengar teriakan memanggilnya. Si perempuan panik dan hampir menangis. Bang Jalu menyarankan supaya si perempuan itu menelepon pasangannya, tapi ternyata pasangannya itu tidak membawa ponsel. Jadilah Bang Jalu memaksa seorang pengendara motor untuk mengantarkan si perempuan untuk mengejar. Mungkin masih terkejar, karena tidak jauh dari jalan layang terdapat lampu merah Cijantung.

Meskipun terlihat kesal orang yang dimintai tolong bersedia membantu, kenang Bang Jalu. Tak lama kemudian, si pria itu memutar balik dan menanyakan di mana pasangannya tadi. Bang Jalu mengatakan kalau si perempuan tadi membonceng orang untuk mengejarnya. Karena merasa bersalah, padahal niatnya ingin membantu, Bang Jalu pun akhirnya meminjamkan ponselnya agar si lelaki bisa menghubungi pasangannya. Dan akhirnya si perempuan menunggu di halte dekat lampu merah Cijantung. Pasangannya sangat berterima kasih pada Bang Jalu dan segera melaju pergi.

Beberapa hari setelah kejadian tersebut, pasangan itu kembali mendatangi Bang Jalu dan membawakan buah tangan sebagai tanda terima kasih atas pertolongannya waktu itu. “Tuh, kan, kalo rezeki mah nggak ke mana,” ujar Bang Jalu mengakhiri ceritanya. 

Pernah juga suatu ketika para pedagang dan orang-orang yang menepi ‘diusir’ karena jalan layang akan digunakan untuk syuting film. Yah, apa boleh buat, terpaksa Bang Jalu dan kawan-kawan menyingkir sebab syuting tak pernah berjalan sebentar. Tidak ada kompensasi, padahal dagangan belum habis. Obrolan singkat bersama Bang Jalu di jalan layang terpaksa disudahi karena hari juga sudah beranjak malam. Tapi Bang Jalu tak hendak pulang segera, paling tidak sampai dagangannya laris. 

share it